Skip navigation

Monthly Archives: September 2009

“Aku harus sekamar dengannya? Magnae itu? Kenapa harus aku? Kenapa tidak Eeteuk hyung saja yang sekamar dengannya?” Aku masih kokoh dengan pendirianku. ‘ Magnae itu? Siapa namanya? Cho. .Cho. .Ah iya, Cho Kyuhyun. Cowo pendiam tidak jelas itu harus sekamar denganku? Yang benar saja.’ Eeteuk hyung mendekatiku. Tatapan mata innocentnya memohon padaku supaya aku berubah pikiran. Tapi maaf saja, kali ini cara itu tidak berhasil. “Sungminnie, ayolah. Apa salahnya berbagi kamar dengannya? Dia anak yang baik, kamu pasti betah bersamanya. Lagipula kasihan dia. Selama dia selalu tidur di tenda kecilnya di lantai asrama kami. Kamarmu kan besar, muat kan untuk satu tempat tidur lagi. Kamarku sudah penuh. Shindong, kamarnya kan kecil. Kasihan kalau dia disuruh berbagi. Heechul apalagi. Dia kalau tidur kan berisik. Kasihan Kyuhyun ah nanti. Ayolah. Mau ya? Please. Please.” Akhirnya pendirianku pun runtuh. Aku menganggukkan kepalaku. ” Tapi, bila aku tidak nyaman bersamanya, dia harus tidur bersama hyung. Lalu aku yang bersama Donghae. Bagaimana?” Eeteuk hyung tersenyum lalu mengedipkan matanya. “Ok.”

“Mohon bantuannya, hyung.” Kyuhyun tersenyum lalu membungkukkan badannya. Aku juga tersenyum. Tersenyum kikuk lebih tepatnya. Tak kusangka cowok ini tinggi juga. Lebih tinggi dariku. Huft, magnae tak seharusnya lebih tinggi dari hyungnya. Kalau mau jujur, aku memang tidak dekat dengan cowo ini. Dia pendiam, sama sepertiku. Jadi, aku jarang berbicara dengannya. Selama ini, dia tinggal di lantai atas. Karena tak punya tempat tidur, ia terpaksa tidur di tenda kecil birunya yang bergambar awan. Aku kejam juga ya. Aku tidur di kamar sebesar ini, full AC, dengan tempat tidur empuk sementara dia harus tidur di tenda sempitnya itu. “Ini tempat tidurmu. Posisinya masih aneh, karena baru saja dimasukkan. Nanti kubantu kamu membereskannya.” Aku menunjuk tempat tidur yang terletak persis di depanku. Aku yang membelinya kemarin sore. Aku tidak tahu selera dia bagaimana, jadi kesamakan dengan punyaku. Selimutnya juga sama persis dengan punyaku, bedanya punyaku berwarna pink – warna kesukaanku – sementara dia berwarna biru. Semoga saja dia suka, sebab kalau tidak, siap-siap saja kembali ke tenda birunya itu.

“Terimakasih, hyung. Oia, terimakasih juga karena mengizinkanku tidur di sini.” dia tersenyum lagi. Oh, tidak. Aku benar-benar merasa berdosa sekali sekarang. “Maaf. Tak seharusnya selama ini kamu tidur di tendamu itu. Harusnya sejak dulu, kamu pindah ke sini. Kamar ini cukup luas untuk 2 orang. Maaf.” Dan, yang membuatku makin merasa bersalah adalah dia sama sekali tidak marah gara-gara sikap konyolku yang baru rela membagi kamarku ini setelah 3 bulan lebih kami semua pindah ke apartemen ini. Dia meletakkan tasnya di ranjang.”Biru. Warna kesukaanku.” Dia menatapku lalu tersenyum, “Terimakasih.” Oh, Tuhan. Kenapa Kau mengirimkan cowo sebaik ini ke bumi?? Aku tersenyum kikuk, “Sama-sama. Oh iya, panggil saja aku Minnie. Umur kita tidak terpaut terlalu jauh kan. Aku tidak terlalu suka dipanggil ‘hyung’.” Aku lalu duduk di kursi dekat tempat tidurnya. Kupandangi cowo ini baik-baik. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Rambutnya ikal berwarna coklat. Huh, dari dulu aku ingin sekali punya rambut seperti itu, tapi kata penata rambutnya wajahku aneh dengan rambut seperti itu. Dia kurus sekali ya. Apa gara-gara harus tidur di tenda kecil itu, dia sering sakit sampai sekurus ini? “Hyung lapar? Maaf, aku tidak bisa dimakan, hyung. Mau kubuatkan makanan?” Kyuhyun bangkit dari duduknya. ‘Dia sadar kalau diperhatikan ya.’ “Ah, tidak.Tidak. Aku tidak lapar.” Aku mencoba tersenyum. Oh, malunya. Aku lalu buru-buru bangun dari kursi, tapi dasar sial, aku tidak memperhatikan pintu di depanku. Keningku dengan sempurnanya menabrak pintu. “Aduuuhhh!” aku memegang keningku. “Hyung!” Kyuhyun mendekatiku.

Iklan

Kami harus mengambil tindakan tegas dalam masalah ini. Semua kontrak kerjamu akan kami tarik sementara waktu. Dalam rentang waktu itu, renungkan kesalahanmu. Berani berbuat berarti kamu juga berani mempertanggungjawabkannya.

Kata-kata bos terus terngiang di telingaku. Terus berputar-putar di kepalaku. Aku menarik gelas berisi jus jeruk yang terletak di depanku lalu mulai meminumnya. ‘Mungkin aku harus pergi ke asrama. Saat ini semua orang pasti sedang pergi bekerja. Asrama yang kosong adalah tempat yang paling tepat untuk menenangkan diri. Ya. Menenangkan diri. Aku benar-benar butuh hal itu sekarang.‘ Aku bangun dari kursi lalu pergi ke kasir. Wanita yang menjaga kasir itu menatapku jengah. Apa dia salah satu antis? ‘Huff. Aku benar-benar menyesal sekarang.‘ Aku melangkah keluar dari kafe kopi favoritku, tempat pertama yang kudatangi bila aku sedang stres dengan masalah-masalah yang menimpaku. Tapi hari ini, kurasa aku salah mendatangi tempat itu.

Aku membuka pintu asrama di lantai 12 ini. Beruntung resepsionis tadi mau memberikan kunci duplikatnya. Bahkan dia menyemangatiku supaya tidak terlarut dalam kesedihan terus menerus. Hm, Nice ELF. Kurasa hari ini aku tidak sesial itu. Asrama itu sepi. Aku pergi berkeliling. Di kulkas tertempel berbagai post-it resep-resep makanan. Shin-dong benar-benar ingin membuka restoran rupanya. Di dinding, terpasang banyak foto-foto Super Junior. Ada Eunhae Couple dengan akuarium ikan emas mereka. Kyumin yang belepotan tepung, rambut serta baju mereka berdua kotor dan berantakan tapi dengan senyum lebar membawa ginger cake buatan mereka. Muka penuh coretan Yewook yang sedang tidur. Sihanchul dengan hewan peliharaan masing-masing. Kibum yang sedang main biola. Juga Kangteuk yang sedang mencoba piyama bergambar sepasang beruang, hasil pemberian ELF. Eeteuk hyung tersenyum di foto itu, menggandeng tanganku yang juga tersenyum bahagia. Saat-saat yang menyenangkan.

” Kangin ah? ” Aku menoleh ke arah sumber suara. Kulihat Eeteuk hyung berdiri di belakangku. Rambutnya berantakan, mungkin dia baru bangun tidur, pikirku. ” Hyung? Kamu tidak pergi bekerja?” aku mendekatinya sambil membawa segelas air putih. Dia tersenyum lalu meminum air itu sampai habis. ” Acaraku habis masa tayangnya, kau lupa? Siang ini aku bebas. Kenapa tidak menelpon kalau mau datang ke sini? Kupikir tadi kau maling. ” Eeteuk tertawa. “Hyung. .” Dia menoleh, “Apa?” “Aku ingin curhat padamu, boleh?” Eeteuk hyung adalah orang yang paling tepat untuk menemaniku sekarang. Dia pendengar yang baik. Dia juga punya jutaan nasihat yang bijak. Ya, dia memang dia orang yang paling kubutuhkan saat ini. Dia mengacak-acak rambutku sambil tertawa geli. ” Tentu saja. Tunggu aku di ruang santai !” Dia lalu pergi ke dapur. Aku berjalan ke ruang santai lalu duduk di sofa. Tak lama kemudian, Eeteuk hyung datang sambil membawa dua kotak eskrim dan sepasang sendok. ” Kamu suka es krim coklat kan. Untung di kulkas masih ada. Ini akan membuatmu lebih baik.” katanya lalu duduk di sampingku.

Aku menatap Eeteuk hyung dalam-dalam lalu tanpa terasa air mataku jatuh. Kucurahkan semua sakit yang menghimpit dadaku belakangan ini bersama air mata ini. Eeteuk hyung mengulurkan tangannya lalu mengelus-elus kepalaku. Dulu aku sangat benci bila Eeteuk hyung melakukan hal itu. Tiap kali Eeteuk hyung mengelus kepalaku, aku merasa seperti anak kecil yang lemah dan aku sangat benci itu. Tapi sekarang, aku benar-benar suka pada cara Eeteuk hyung mengelus kepalaku. Dia tak hanya seorang leader di mataku, tapi juga seorang ibu. Ibu Super Junior yang tak segan menolong ‘anak-anak’ nya yang sedang susah. “Aku sedih, aku menyesal, saat ini aku merasa seperti orang paling gagal sedunia. Hanya karena tak bisa mengontrol emosiku, semuanya lenyap. Miracle, aku ingin sekali bergabung dengan hyung dan yang lainnya. Tapi, kini, hal itu tak mungkin, kan. ” Eeteuk tersenyum “Tidak ada kau studio terasa lebih lapang. Lebih besar.” “Jadi selama ini hyung pikir kehadiranku di Miracle tak berguna? Aku memang bodoh. Kemampuan MC ku masih jauh, sangat jauh di bawah hyung. Kupikir dengan datang ke sini, aku bisa lebih baik. Tapi, ternyata, aku hanya bertemu dengan orang sok tahu yang menganggapku tak berguna. ” Nada suaraku meninggi. Aku bangun dari dudukku lalu pergi menuju pintu. Tak kuhiraukan Eeteuk hyung yang berusaha menghalangiku pergi. ‘Dasar bodoh kamu, Young-woon!!! Buat apa meminta nasihat orang seperti dia? ‘ sisi jahatku berbicara. Aku bergegas pergi dari asrama, kupacu mobilku dengan kecepatan tinggi. ‘ Sekarang aku hanya ingin pulang. .

“Aku pulang.” Aku melepas sepatuku. “Omo, akhirnya kamu pulang juga. Dari tadi Ibu hubungi tidak bisa-bisa.” Aku memandang Ibuku heran. Dari kemarin, HP ku memang kumatikan. Aku bosan mendengar suara penelpon misterius yang selalu menjelek-jelekkan diriku setelah insiden pemukulan itu merebak luas. ” Tadi Jungso ke sini. Tapi, karena kamu tak ada, dia hanya menitipkan ini.” Ibu menyerahkan sebuah surat. Aku menerimanya dengan jutaan pertanyaan berputar di otakku. ‘Mau apa Eeteuk hyung ke sini? ‘ Aku membuka amplop surat itu, lalu mulai membaca isinya.

Young-woon ah, sebenarnya dari kemarin aku ingin bertemu denganmu, tapi HP mu selalu tak bisa kuhubungi. Tiap kucari ke rumah, kamu tak pernah ada. Jadi, aku menitipkan surat ini. Hehehe. Aku hanya ingin bilang padamu, kamu bukan orang gagal. Saat ini adalah saat yang paling tepat untukmu mendewasakan diri. Introspeksi diri. Aku tidak menyalahkanmu karena insiden itu. Aku tahu kamu punya alasan melakukannya. Selama ini selalu aku yang menangis di depanmu, selalu aku yang meminta pertolonganmu, tapi sekarang biarkan aku yang gantian menjagamu. Jangan sungkan-sungkan menangis di depanku, aku tidak akan mengejekmu anak kecil kok. Maaf, kalau selama ini aku bersikap seperti hyung dan leader yang lemah di hadapanmu. Aku menyanyangimu. .

Aku buru-buru keluar, ku pacu mobilku kembali ke asrama, berharap Eeteuk masih ada di sana. Aku mengetuk pintu asrama dengan tak sabar dan begitu pintunya dibuka, langsung kupeluk Eeteuk hyung erat-erat. Kulihat mata Eeteuk hyung sembab. ” Maaf. Aku benar-benar minta maaf. Bukan itu maksudku. Tadi aku hanya bercanda. Maaf.” Kurasakan kemejaku basah. Oh, tidak. Dia menangis. ” Harusnya aku yang minta maaf. Dengan seenaknya menuduh hyung seperti itu. Maaf. Aku sudah baca surat hyung. Isinya bagus sekali. Aku jadi bersemangat kembali, hyung.” Aku tersenyum. Eeteuk hyung masih terisak-isak. Matanya merah dan hidungnya mengeluarkan ingus. Kuambil sapu tangan dari saku celanaku lalu mengusap hidungnya sambil tertawa geli. “Mau makan es krim? Aku rasa itu akan membuatmu lebih baik, hyung.” Eeteuk hyung tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. ‘Aku benar-benar merasa beruntung sekarang. Terimakasih, hyung. .