Skip navigation

Monthly Archives: Februari 2010

Park Jung-soo’s POV

Sudah seminggu aku bolak-balik ke rumah sakit ini. Ke kamar ini. Dan, ia masih terbaring lemas di ranjang itu. Wajahnya masih sama seperti saat pertama kali aku melihatnya. Pucat. Hanya detak jantung yang terekam di alat sajalah yang mengatakan ia masih hidup. Bahwa ia masih bertahan melawan kematian yang kapan saja siap menjemputnya. Aku melangkahkan kakiku mendekatinya. Kuletakkan beberapa tangkai bunga mawar ke dalam vas yang terletak di sebelah ranjangnya. Aku tak mengenal wanita ini. Aku ingat, sangat ingat bahkan, ia tiba-tiba muncul di depan mobilku seminggu yang lalu. Dan, bodohnya, aku menabraknya. Kulihat tubuhnya membentur kaca mobilku sebelum akhirnya terpelanting dan jatuh ke jalan. Saat aku keluar dari mobil untuk melihat keadaannya, darah segar mulai mengalir dari tubuhnya. Membasahi kening dan pelipisnya. Reflek, aku langsung membopong tubuhnya dan membawanya ke rumah sakit. Ia tidak memiliki data diri. Jadi, aku yang harus membayar segala biaya yang ia habiskan selama perawatan di rumah sakit ini. Tapi, aku sama sekali tak berkeberatan dengan semua hal itu. Aku yang telah membuatnya sampai seperti ini. Inilah bentuk tanggung jawabku padanya.

Tiba-tiba kulihat kedua pelupuk matanya bergerak. Diikuti oleh jemari tangannya. Perlahan, ia membuka matanya. “Kamu sadar! Kamu sadar!” teriakku padanya. Kurasakan luapan kebahagiaan memenuhi relung hatiku. Aku merasa sangat senang dan juga sangat lega. “Akan kupanggilkan dokter, kamu tunggu di sini!” kataku padanya. Dan aku segera berlari. Bisa kudengar pantulan derap langkahku di sepanjang lorong. Sebaris senyum terukir di bibirku. Tapi, ternyata kenyataan tega mempermainkan perasaanku. Kenyataan tega menghancurkan hatiku menjadi jutaan potongan kecil yang sulit untuk kusatukan kembali. Saat aku kembali ke kamarnya bersama seorang dokter, ia mengucapkan dua patah kata yang sama sekali tak kuduga. Dua patah kata yang kuharapkan tak akan pernah keluar dari bibirnya. “Aku siapa?” tanyanya, lirih. Dia menatapku dengan kedua matanya yang menyiratkan kebingungan. Dan aku sadar, dia melupakan semuanya.

>.<

“Masuklah. Anggap saja rumah sendiri.” kataku. Ia terlihat ragu. Aku mendorong punggungnya, pelan. “Masuklah.” suruhku. Perlahan, ia melangkahkan kakinya memasuki rumahku. Ia menolehkan kepalanya ke berbagai arah. “Kamu suka rumah ini?” tanyaku sambil meletakkan tasku ke sofa ruang tamu. Ia menolehkan wajahnya lalu tersenyum simpul. “Rumahmu indah sekali. Aku menyukainya.” katanya. Aku tertawa pelan. Sama seperti dirinya, aku juga sangat menyukai rumah ini. Aku membelinya tiga tahun yang lalu. Nama rumah ini ‘Full House’. Artinya ‘rumah yang penuh dengan cinta’.Selain karena interior rumah ini yang sangat unik dan juga pemandangan sekelilng yang sangat indah, rumah ini menjadi sangat spesial karena tempat ini pernah dijadikan setting sebuah drama dengan judul yang sama dengan nama rumah ini, Full House. Aku pernah menonton drama itu sekali. Dan aku menyukainya. Drama itu sangat booming di Korea dan kudengar hak siar drama itu dibeli oleh beberapa negara lain. Oleh karena itu, sangat sulit sekali mendapatkan rumah ini. Aku harus menabung bertahun-tahun sebelum bisa membeli rumah ini.

“Jung-soo sshi, gara-gara aku, sekarang kamu pasti sangat repot. Maafkan aku.” katanya, pelan. Aku tersentak, tersadar dari lamunanku. Kutolehkan wajahku dan kulihat ia berdiri tak jauh dariku. Ia membungkukan badannya lalu menundukkan wajahnya, mengalihkan pandangannya dariku. “Semua ini bukan salahmu. Aku yang membuatmu sampai seperti ini. Akulah yang seharusnya disalahkan.” balasku. Aku berjalan mendekatinya. Kuangkat wajahnya. Air mata mulai menggenang di kedua pelupuk matanya. “Maafkan aku.” kataku, lirih. Ia melupakan semuanya. Bahkan namanya saja pun, ia tak ingat. Setiap kali melihatnya, hatiku sakit. Perasaanku remuk. Aku selalu teringat pada kenyataan pahit bahwa karena akulah, ia menjadi seperti ini. Berputar-putar dalam kekosongan, dalam kehampaan, karena tak ada satupun kenangan yang tersisa dalam pikirannya. Ia menenggelamkan wajahnya ke dadaku, membuat kemajaku basah oleh air matanya. “Maafkan aku, Jung-soo sshi. Maafkan aku.” Ia terus menangis sambil mengulang permintaan maaf itu berkali-kali. Perasaanku makin sakit. Akulah yang sepantasnya disalahkan. Akulah yang sepantasnya meminta maaf padanya.

“Ha-neul ah, maafkan aku.” bisikku, pelan. Ha-neul, berarti ‘surga’. Aku memberi nama itu untuknya karena kupikir sulit untuk berkomunikasi dengannya bila ia tidak mempunyai nama. Surga, nama yang cukup indah menurutku. Karena di tempat itulah, tak pernah ada kesedihan, tak pernah ada luka, dan tak pernah ada kehampaan. Kuharap dengan nama ini, ia akan sedikit terbebas dari semua kesedihan dan kehampaan yang akan terus membelenggunya selama ia belum bisa mengingat semuanya. Aku memintanya tinggal bersamaku karena hanya akulah orang yang mengenalnya saat ini. Polisi sulit mengecek jati dirinya karena ia tidak memiliki satupun tanda pengenal. “Maafkan aku.” ulangku lagi. Tanpa kusadari, air mata juga mulai menggenang di kedua pelupuk mataku. Dan, perlahan mulai mengalir turun, membasahi kedua pipiku. Aku menangis bersamanya. Aku tak tega melihatnya seperti ini. Saat ia menangis seperti ini, saat ia menangisi kenyataan pahit yang terbentang di hadapannya, hatiku terasa lebih sakit. Jauh lebih sakit. Karena gara-gara akulah semua ini terjadi. Akulah yang membuatnya terluka. Akulah yang membuatnya terperangkap dalam kehampaan, tanpa satupun kenangan tersisa dalam pikirannya. Dan, aku pun terus menangis.

>.<

Hari ini genap setahun aku tinggal bersama Ha-neul. Ia pribadi yang menyenangkan. Sangat menyenangkan. Ia sangat ceria, apa adanya, dan juga polos. Aku tak pernah bisa berhenti tersenyum ataupun tertawa saat ia mulai melancarkan segala guyonannya. Apalagi kalau ia sudah mulai bereksperimen di dapur, mencoba menunjukkan kemampuannya dalam hal kuliner. Ia tak akan segan-segan mencampurkan segala bahan makanan. Pernah suatu hari, ia berpesan padaku sebelum aku pergi bekerja, aku memiliki sebuah cafe bernama Heaven’s Smile di Shibuya, supaya aku pulang lebih awal karena ia ingin memasakkan sesuatu untukku. Saat aku pulang, kepulan asap dan bau menyengat menyambutku. Ia berdiri di balik meja dapur, mencoba menyunggingkan sebaris senyum. “Aku gagal membuatkan sup rumput laut untukmu, Jung-soo sshi. Maaf. Padahal hari ini kan hari ulang tahunmu. Sebenarnya aku juga ingin membuatkan cake untukmu. Tapi, aku gagal.” katanya. Wajahnya dipenuhi coreng-moreng tepung, rambutnya berantakan, dan kedua matanya menatapku dengan sorotan penyesalan. Aku menatapnya tak percaya. Perlahan, sebaris senyum terukir di bibirku. Aku berjalan mendekatinya lalu merapikan rambutnya. Kubersihkan wajahnya dengan sapu tangan yang kubawa. Kurendahkan tubuhku, membuat kedua mata kami bertemu. “Terimakasih, Ha-neul ah. Terimakasih karena telah mengingat hari ulang tahunku.” kataku, lalu tersenyum lebar.

Ia memanyunkan mulutnya lalu menggembungkan kedua pipinya. “Tapi, aku gagal membuatkan makanan untukmu. Padahal kamu sudah pulang lebih awal. Maaf.” balasnya. Aku ingat, hari itu, akhirnya aku yang memasak makanan untuk kami berdua. Dia menepukkan kedua tangannya saat aku mengeluarkan roti yang baru saja selesai dipanggang dari dalam oven. Dan dia juga tersenyum lebar saat menghias roti itu dengan cream dan potongan buah. Aku berharap agar senyuman itu tak menghilang dari wajahnya. Walau kutahu, luka di hatinya belum sembuh sepenuhnya. Ia masih belum bisa mengingat sesuatu dari masa lalunya. Hari itu diakhiri dengan sebuah lagu yang kumainkan di ruang tengah. Lantunan not-not menggema di sekeliling rumah. Hari itu adalah hari ulang tahun pertama yang kuhabiskan bersamanya. Dan hari ulang tahun yang sangat berkesan di hatiku. Saat itu, aku tersadar, aku mulai menyukainya. Aku mulai menyukai Ha-neul.

^^

“Kamu ingin ke mana, Jung-soo sshi?” tanyanya saat melihatku keluar dari rumah sambil membawa sekotak cake yang kuhias dengan pita berwarna pastel. “Aku ingin mengunjungi seorang teman di rumah sakit.” jawabku. Hari ini aku ingin mengunjungi Ryeo-wook, dia adalah adik dari salah satu langgananku di cafe. Sudah lebih dari setahun, dia dirawat di rumah sakit karena kanker hati yang terus menggerotinya. “Bolehkah aku ikut?” tanyanya lagi. Aku mengangguk. Saat kami sampai di rumah sakit, sekumpulan orang berteriak histeris di hadapanku. Mereka meneriakkan nama Sang-mi berkali-kali, sebelum pada akhirnya seorang Ibu menarik Ha-neul dalam pelukannya. Beliau menangis, air mata mengalir turun dari kedua matanya. “Akhirnya kamu pulang Sang-mi. Ibu sangat merindukanmu.” kata Beliau di sela-sela tangisannya. Aku menatap mereka penuh tanya. Dan segala pertanyaanku terjawab saat Ibu itu, yang ternyata adalah Ibu kandung Ryeo-wook, menceritakan segalanya.

Beliau menceritakan masa lalu Ha-neul, yang selama ini tak bisa diingatnya. Nama asli Ha-neul adalah Sang-mi. Seo Sang-mi. Dia adalah tunangan Ryeo-wook. Mereka seharusnya menikah setahun yang lalu, saat Ryeo-wook merasa ia bisa melawan penyakitnya. Saat ia merasa ia bisa menang dari kanker hati yang menggerotinya. Tapi ternyata, ia gagal. Ia kalah. Dokter mengatakan sudah tak ada harapan lagi untuknya. Ia tak bisa bertahan lebih lama lagi kalau tak ada donor hati untuknya. Beliau mengatakan semua kenyataan itu 3 hari sebelum pernikahan mereka diadakan. Ryeo-wook memutuskan untuk meninggalkan Sang-mi. Ia tak tega melihat wanita yang sangat dicintainya itu harus hidup dengan orang yang mempunyai penyakit seperti dirinya. Ia bahkan tak tahu berapa lama lagi sisa hidupnya. Berapa lama lagi ia sanggup bertahan. Ia tak ingin Sang-mi terluka. Dan, ia pun menyiapkan sebuah sandiwara untuk membuat Sang-mi rela melepasnya. Untuk membuat Sang-mi pergi meninggalkannya. Ia tahu Sang-mi akan terluka, tapi pasti suatu hari nanti luka itu akan sembuh saat Sang-mi menemukan pengganti dirinya yang jauh lebih baik. Dan sandiwara itu berhasil dengan sangat sempurna. Tapi, yang membuat perasaan Ryeo-wook sakit, Sang-mi memang pergi meninggalkannya, tapi ia tak pernah kembali.

Ia pergi entah kemana. Ryeo-wook mencoba mencarinya ke seluruh penjuru Jepang. Ia bahkan menghubungi sanak keluarga Sang-mi yang tinggal di Korea. Tapi semua itu sia-sia. Sang-mi seakan hilang ditelan bumi. Kedua orangtua Sang-mi bahkan sudah menyerah untuk mencarinya. Mereka rela melepas kepergian Sang-mi. Tapi, Ryeo-wook tidak. Ia belum rela melepas Sang-mi. Tidak, saat Sang-mi masih belum mengetahui semua kebenaran yang selalu ia rahasiakan. Ia mencoba bertahan dari penyakitnya. Dokter bahkan mengatakan bahwa ia tidak menyangka Ryeo-wook bisa bertahan selama itu. Impiannya hanya satu, ia ingin bertemu dengan Sang-mi. Ia ingin meminta maaf atas semua kebohongan yang telah ia lakukan. Tapi, semua semangat itu tidak didukung oleh kondisi tubuhnya. Dari hari ke hari, tubuhnya semakin lemah. Donor hatinya untuknya juga belum ada. Kematian bisa menjemputnya kapan saja. Aku menolehkan wajahku, kulihat wajah Sang-mi pucat, aku tak seharusnya memanggilnya Ha-neul lagi kan. Ia mungkin masih syok dengan semua kenyataan yang ia dengar.

“Boleh aku menemui Ryeo-wook sshi?” tanyanya, lirih. Ibu Ryeo-wook menganggukkan kepalanya. “Jung-soo sshi, bisakah kamu menemaniku?” tanyanya. Aku hanya terdiam. Sekarang, perasaanku terasa jauh lebih sakit daripada saat aku mengetahui kenyataan kalau Sang-mi terkena amnesia. Ironisnya, aku bahkan sudah kalah sebelum aku sempat menyatakan perasaanku pada wanita itu. Ryeo-wook pasti sangat mencintai Sang-mi. Kadar cintaku tak bisa dibandingkan dengannya. “Jung-soo sshi,” panggil Sang-mi. “Aku mohon.” katanya. Kupaksakan tubuhku untuk mengangguk lalu menemaninya untuk menemui Ryeo-wook. Kulihat Ryeo-wook terbaring lemas di ranjangnya. Wajahnya sangat pucat. Belasan selang yang terus menyangga hidupnya terpasang di sekujur tubuhnya. “Ryeo-wook sshi,” panggil Sang-mi, lirih. “Aku pulang.” katanya. Air mata mulai jatuh dari kedua matanya. “Walaupun sampai sekarang, aku tak bisa mengingatmu. Mengingat semua kenangan saat kita bersama, tapi aku mohon, bertahanlah. Bertahanlah lebih lama lagi. Tunggulah agar aku bisa mengingat semua kenanganku bersamamu. Aku mohon. Dan, aku juga memaafkan segala kebohongan yang telah kamu lakukan padaku, aku memaafkanmu. Jadi aku mohon bertahanlah.” lanjutnya. Dan, semua pertahanan Sang-mi runtuh. Ia menangis di hadapan Ryeo-wook dan juga di hadapanku yang hanya bisa menatapnya dalam diam. Tiba-tiba, secara perlahan Ryeo-wook membuka kedua matanya. “Sang-mi,” panggilnya pelan. Aku memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Aku merasa perasaanku hancur, remuk menjadi serpihan kecil saat kulihat Ryeo-wook tersenyum saat melihat Sang-mi.

Setengah jam berlalu dan Sang-mi belum keluar juga dari kamar itu. Saat ia keluar, ia melangkahkan kakiku mendekatiku. Ia menjinjitkan kedua kakinya, mencoba mendekatkan bibirnya ke telingaku, lalu berbisik pelan. “Ryeo-wook oppa ingin menemuimu, Jung-soo sshi.” katanya. Aku tersentak. ‘Ryeo-wook oppa? Oppa? Sebegitu cintanyakah Sang-mi pada Ryeo-wook sampai-sampai ia memanggilnya semesra itu?! Mereka bahkan baru bertemu kurang lebih satu jam satu jam yang lalu, kenapa Sang-mi sudah memanggilnya dengan embel-embel ‘oppa’ ! Aaaarrrggh.‘ batinku, kesal. Dan, aku baru ingat, mereka sudah saling mencintai sejak lama. Perasaan cinta itu pasti masih ada, masih terkumpul di relung hati Sang-mi yang terdalam, walaupun ia tak bisa mengingatnya. Aku mengangguk kikuk. “Baiklah, aku akan menemuinya.” Kulangkahkan kakiku mendekati ranjang Ryeo-wook. Ia tersenyum saat melihatku. “Perkenalkan namaku Kim Ryeo-wook. Salam kenal.” sapanya, lirih. Aku membungkukkan badanku sedikit. “Namaku Park Jung-soo. Salam kenal. Senang bertemu denganmu.” sapaku. “Kakakku sering bercerita tentang cafemu. Roti buatanmu enak sekali. Aku sangat menyukainya.” katanya.

Aku tersenyum. “Terimakasih atas pujiannya.” Sesaat, keheningan menyelimuti kami. “Terimakasih telah menjaga Sang-mi.” katanya, “Dan tolong, jagalah dia. Dia mencintaimu, Jung-soo sshi. Saat kami mengobrol tadi, tak henti-hentinya ia bercerita tentang dirimu. Yang ada di hatinya sekarang, bukan lagi aku. Tapi, dirimu, Jung-soo sshi. Jadi tolong, jagalah dia setelah aku pergi.” lanjutnya. Aku terhenyak. “Maksudmu apa, Ryeo-wook?” tanyaku. “Dia mencintaimu. Seo Sang-mi mencintaimu. Jadi, jagalah dia. Gantikan posisiku sebagai pelindungnya. Aku mohon.” jawabnya. Aku hanya terdiam selama beberapa saat. Perlahan sebaris senyum terlukis di wajahku. “Aku mengerti. Aku akan menjaganya sekuat tenaga. Aku akan berusaha membuatnya tersenyum dan tidak membuatnya menangis. Aku mencintainya.” balasku. Dia tersenyum mendengar pengakuanku. “Aku sudah tahu hal itu sejak pertama kali melihatmu memandangnya. Ah, aku lega sekali sekarang. Jung-soo sshi, tolong jaga Sang-mi ya.” Dan aku pun tersenyum.

^^

Seo Sang-mi’s POV

“Untuk apa Jung-soo sshi memanggilku malam-malam begini ke Heaven’s Smile?” gerutuku. Aku baru saja pulang dari rumah sakit untuk menjenguk Ryeo-wook oppa saat Jung-soo sshi menelponku dan menyuruhku untuk datang ke cafenya. Dari kejauhan kulihat Heaven’s Smile gelap, tak ada penerangan yang menerangi cafe itu. “Apakah Jung-soo sshi membohongiku?” tanyaku. Kupercepat langkahku lalu mencoba mengintip lewat jendela kaca di depan Heaven’s Smile. Tempat itu gelap sekali. Tiba-tiba pintu Heaven’s Smile terbuka dan kulihat seorang cowo menyembulkan wajahnya dari balik pintu. Wajah cowo itu manis sekali. Name tag bertuliskan Hee-chul melekat di bagian kiri vestnya. “Apakah Anda Seo Sang-mi sshi?” tanyanya. Suaranya lembut sekali. Aku mengangguk. “Masuklah. Jung-soo sshi telah menunggumu di dalam.” katanya. Saat aku mulai melangkahkan kakiku memasuki Heaven’s Smile, tiba-tiba tiap meja yang ada di Heaven’s Smile dihiasi nyala lilin berbentuk hati. Satu orang, dengan seragam kerja Heaven’s Smile, berdiri di tiap-tiap meja. Pasti mereka yang menyalakan lilin-lilin itu. Mereka semua tersenyum lebar saat melihatku. ‘Ada apa ini?‘ batinku. Kulihat ratusan tangkai mawar merah menghiasi tiap sudut Heaven’s Smile. Dibentuk menjadi bentuk hati. Jung-soo sshi menyembulkan wajahnya dari balik grand piano yang terletak di tengah-tengah Heaven’s Smile. Dia tersenyum lalu mulai memainkan tuts-tuts piano di hadapannya. Suaranya yang begitu merdu menggema di sekeliling Heaven’s Smile.

Love, oh baby my girl
Geudan naui jeonbu neunbu shige areumdaun
Naui shinbu shini jushin seonmul
Haengbokhangayo geudaeui kkaman neuneseo nunmuri heureujyo
Kkaman meori pappuri dwol ddaekkajido
Naui sarang naui geudae saranghal deoseul na maengsehalgeyo

Love, oh baby my girl
You are my everything
My dazzlingly beautiful bride
You are a gift from god
We’ll be very happy, your black eyes well up with tears
Even if your black memerizing hair turns white
My love, you my love, I swear I love you

Geudaereul saranghandaneun malpyeongsaeng maeil haejigo shipeo
Saying I love you is what I want to do the most everyday in my life
Would you marry me? Neol saranghago akkimyeo saragaro shipeo
Would you marry me? I want to love you, treasure you, and live with you
Geudaga jami deul ddaemada nae pare haewojugo shipeo
I want you to lean on my shoulders each time you sleep
Would you marry me? Ireon naui maeum heorakhaejurae?
Would you marry me? With this heart of mine, will you accept me?

Pyeongsaeng gyeote isseulge, I do
Neol saranghaneun geol, I do
To accompany you for the whole lifetime, I do
To love you, I do

Neungwa biga wado akkyeojuyeonseo, I do
Neoreul jikyeojulge, my love
Regardless of snow and rain, i will be there to protect you, I do
Let me be the one to protect you, my love

Hayan deureseureul ipeun geudae teokshidoreul ipeun naui moseup
Balgeoreumeul matchumteo geodneun uri jeo dalnimgwa byeore, I swear
Geojitmal shilheo uishimshilheo
Saranghaneun daui gongju, stay with me
You wearing the white bridal gown, me wearing the suit
Both of us walking in sync towards the stars and moon, I swear
No lies, no suspicion
My dearest princess, stay with me

Uriga naireul meogeodo useumyeo saragago shipeo
Even if we are becoming older, we will smile and live on
Would you marry me? Naui modeun nareul hamkke haejurae?
Would you marry me? Are you willing to live the rest of your life with me?

Himdeulgo eoryeowodo, I do
Neul daega isseulga, I do
No matter how weary and tired we are, I do
I will always be by your side, I do
Uri hamkkehaneun malheun nal dongan, I do
maeil gamsahalge, my love
The days when we will spend together, I do
Everyday will my heart be thankful, my love

Orae jeonbuteo neoreul wihae junbuhan
Nae sone bitnaneun banjireul badajwo
I have prepared this (ring) for you since a long time ago,
Please take this shiny ring in my hand

Oneulgwa gateun mameuro jigeumui yaksok gieohalge
Would you marry me?
Just like the mood today, remember the promise that we’re making now
Would you marry me?

Pyeongsaeng gyeote isseulge, I do
Neol saranghaneun geol, I do
Neungwa biga wado akkyeojuyeonseo, I do
Neoreul jikyeojulge, I do…
To accompany you for the whole lifetime,I do
To love you, I do
Regardless of snow and rain, I will be there to protect you, I do
Let me be the one to protect you, I do…

Naega geudaeeoge deuril geoseun sarangbakke eopjyo
Geujeo geuppuningeol bujalgeoseopjyo
Seotureoboigo malhi bujokhaedo naui sarang
Naui geudae jikyeojulgeyo
Hangajiman yaksokhaejurae? Museunil isseodo
Uri seoro saranghagido… geuppuniya
The only thing that I can give you is love
Although it’s insignificant
Even though there are areas which I lack
I will protect the love between us, me and you
Let’s make a promise, no matter what happens we will still be in love
And even so…

I do
Neul daega isseulga, I do
Uri hamkkehaneun malheun nal dongan, I do
Maeil gamsahalge, my love
I do
I will always be by your side, I do
The days when we will spend together, I do
Everyday will my heart be thankful, my love

Nawa gyeolhanhaejurae? I do
Will you marry me? I do

Aku tak mempercayai pendengaranku. ‘Jung-soo sshi melamarku?‘ Kulihat Jung-soo sshi bangkit dari duduknya. Ia tersenyum lalu melangkahkan kakiku mendekatiku. Ia terlihat sangat tampan dalam balutan jas hitam. Tiba-tiba ia berlutut di hadapanku lalu menunjukkan sebuah kotak kecil yang berisikan sebuah cincin yang dihiasi ukiran yang sangat indah. “Nawa gyeolhanhaejurae?” tanyanya. Kurasakan mukaku bersemu merah karena malu. Jung-soo sshi masih berlutut di hadapanku, menunggu jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan. “Maaf,” kataku. Memecah keheningan yang tercipta di antara kami. Kedua mata Jung-soo sshi membesar. Teriakan kekecawaan terdengar dari sekeliling cafe. “Maaf,” ulangku. Jung-soo sshi berdiri lalu tersenyum di hadapanku. Aku tahu, ia pasti kemaksakan bibirnya untuk tersenyum. “Tidak apa-apa.” katanya, pelan. Aku tak tahan lagi. “Maaf, tapi aku tak bisa mengatakan ‘tidak’. I do, Jung-soo sshi.” kataku. Ia tersontak kaget. Perlahan, wajahnya dihiasi sebuah senyuman. Ia menarikku dalam pelukannya. “Terimakasih, terimakasih, Sang-mi.” Dan aku pun tersenyum. “Terimakasih karena telah menyukaiku, Jung-soo op..oppa.” kataku. “Akhirnya kamu memanggilku dengan embel-embel ‘oppa’.” katanya. Dan kami berdua pun tersenyum. You’re my soulmate, Jung-soo oppa. Now and forever, you’re my soulmate.

Iklan

THE SUN Lee Hyuk-jae’s POV “Hei, Hyuk-jae!” aku menolehkan kepalaku ke arah sumber suara. Kulihat Lee-teuk sshi berdiri tak jauh dariku. Aku melangkahkan kakiku mendekatinya. “Ada apa, Lee-teuk sshi?” tanyaku. Kutinggikan volume suaraku, berusaha melawan suara musik yang bergema di sekeliling club ini. “Ada pelanggan untukmu. Dia sudah menunggumu di kamar nomer 9.” jawabnya, santai. DEG! Kurasakan gelombang-gelombang ketakutan menjalar di sekujur tubuhku. Jantungku berdetak semakin cepat. ‘Akhirnya saat ini tiba juga.’ batinku. “Sana! Aku tidak mau dia menunggu terlalu lama.” suruh Lee-teuk sshi. Ia membalikkan tubuhku lalu mendorongku menjauh darinya. Setiap langkah yang membawaku ke kamar itu semakin membuat detak jantungku berdebar tak karuan. Aku tak menyangka saat-saat yang sangat kutakuti ini datang secepat ini. Saat aku sampai di depan pintu, kulihat Sung-min hyung berlari mendekatiku. Ekspresi cemas terlukis sangat jelas di wajahnya. “Sudah ada, ya?” tanyanya. Aku mendengar nada khawatir dalam suaranya. Aku mengangguk lemas. “Kamu bisa mengatakan padanya kalau kamu tak mau melakukan hal itu.” ia mencoba memberi saran. “Tapi, kalau ia tetap mau melakukan hal itu? Lee-teuk sshi pasti akan marah sekali padaku kalau aku ketahuan membangkang.” kataku, lirih. Ia menggeleng keras. “Kalau perlu, kamu memohon padanya.” balasnya. Aku hanya terdiam. Tiba-tiba, Sung-min hyung mencengkram kedua lenganku. “Setiap manusia mempunyai banyak pilihan dalam hidupnya. Mereka bisa memilih mana pilihan yang terbaik menurut mereka. Sekarang semua tergantung padamu. Kamu mau mengorbankan masa depanmu untuk seseorang yang bahkan tak mengenalmu sama sekali. Ataukah kamu mau melawan dan memohon padanya agar ia tak melakukan hal kotor itu padamu.” katanya tegas. “Tapi,” “Sekarang kamu harus memilih, Hyuk.” ia memotong perkataanku. Kurasakan cengkramannya semakin keras. “Aku akan memohon padanya agar ia tak melakukan hal kotor itu padaku.” kataku, setelah berpikir beberapa saat. Sebaris senyuman terukir di wajah Sung-min hyung. Ia menepuk kepalaku pelan lalu mengacak-acak rambutku yang dihiglight merah. “Bagus! Sekarang cepat masuklah.” katanya sambil mendorong tubuhku. Aku mencoba untuk tersenyum. Tapi senyuman ini tetap tak bisa menghapus rasa khawatir dan takut yang semakin menggumpal, memenuhi rongga hatiku. “Doakan semoga aku berhasil, hyung.” kataku. Ia mengangkat tangannya. “Hwaiting!” balasnya. Aku tersenyum lagi. ‘Setelah aku membuka pintu ini, aku akan memohon pada orang itu agar ia tak melakukan hal kotor itu padaku. Ya, aku akan memohon padanya. Bila, ia menolak, aku akan terus memohon padanya.’ batinku. Saat kubuka pintu, kulihat seorang cowo, kurasa umurnya masih sebaya denganku. Ia sedang duduk di sofa sambil mengutak-atik i-podnya. Saat ia mendengar langkah kakiku yang berjalan mendekatinya, ia mengangkat kepalanya. Di bawah terang lampu kamar ini, aku bisa melihat sepasang matanya, yang menyorotkan kesedihan. Kulitnya sangat pucat, bahkan lebih pucat dari warna kulitku. Bibirnya yang merah mengulum sebuah senyum dingin. Rambutnya yang berwarna coklat tanah, ia potong acak-acakkan. Ia meletakkan i-podnya di meja lalu bangkit dari duduknya. Kedua kakinya melangkah mendekatiku. Setiap langkahnya semakin membuat tubuhku berkeringat dingin. Saat ia berdiri di depanku, ia hanya sedikit lebih tinggi dariku, sebaris senyum simpul terukir di bibirnya. Aku bisa mencium aroma peppermint dan cinnamon dari tubuhnya. Ia mengelus pipiku lalu mendekatkan bibirnya ke telingaku. “Sekarang kamu milikku.” bisiknya pelan. Aku ingin berontak, aku ingin berteriak, aku ingin sekali kabur dari kamar ini, tapi tubuhku seolah tak mengiyakan. Aku hanya diam saat ia melakukan semua hal itu. Tiba-tiba ia berbalik, mengambil i-podnya di meja, lalu menarik pergelangan tanganku. Ia membuka pintu. Ia menarik tanganku sepanjang jalan. Kulihat Sung-min hyung berdiri di balik meja bar-nya sambil menatap syok ke arah kami berdua. “Aku akan mengembalikannya ke mari saat subuh nanti.” kata cowo itu saat kami berdua bertemu dengan Lee-teuk sshi di dekat pintu masuk. Lee-teuk sshi hanya menyeringai. Ia mendekatkan tubuhnya ke arahku. “Jangan sampai membuatnya kecewa.” katanya di telingaku. Tubuhku semakin lemas. Sekarang rasanya aku benar-benar ingin menangis. “Kamu dengar itu kan, Hyuk-jae. Jangan sampai membuatnya kecewa.” ulang Lee-teuk sshi. Aku memaksakan tubuhku untuk mengangguk. “Saya mengerti, Lee-teuk sshi.” kurasakan suaraku bergetar. Lee-teuk sshi tersenyum lalu menepuk kepalaku pelan. “Good Boy.” katanya. Cowo itu kembali menarik tanganku. Aku membungkukkan badanku sedikit pada Lee-teuk sshi sebelum kami berdua keluar dari club. Cowo itu memencet sebuah tombol kecil di kunci mobilnya. Dan sebuah cahaya berpendar dari sebuah mobil VW Beetle berwarna silver yang diparkir tak jauh dari club. Ia menarik tanganku mendekati mobilnya lalu mendorongku masuk. Bodohnya aku bahkan tak melawan. Aku hanya terdiam. Suaraku seakan-akan tercekat di tenggorokan. Sepanjang perjalanan, keheningan menyelimuti kami berdua. Cowo itu menutup kedua telinganya dengan headphone berwarna biru. Dan beberapa menit kemudian, mobil yang kami naiki melewati deretan apartemen mewah sebelum akhirnya masuk ke dalam basement salah satu apartemen mewah itu. Cowo itu memarkirkan mobilnya lalu menggeser tubuhnya untuk melepaskan sabuk pengaman yang membelit tubuhku. “Keluarlah.” suruhnya. Dengan tangan yang gemetar, kubuka pintu mobil. Cowo itu sudah keluar duluan dan menungguku di depan mobilnya. Saat aku menghampirinya, tiba-tiba ia menarik tubuhku mendekat padanya. Ia menyatukan jemari tangannya ke tanganku. Kami berdua berjalan menuju lift sambil bergandengan tangan. Orang-orang yang berkumpul di depan lift memandang aneh ke kami berdua. Tentu saja mereka akan melakukan hal itu. Mereka semua pasti berpikir kalau aku dan cowo itu pasangan gay karena dengan terang-terangan bergandengan di tempat umum seperti ini. Tapi cowo itu tetap bersikap cuek, seolah-olah di depannya tak ada apa-apa. Aku lalu menundukkan kepalaku. “Tanganmu berkeringat. Tenanglah.” kata cowo itu tiba-tiba. Aku tersentak saat mendengar suaranya. Aku mencoba membuat tubuhku tetap tenang, seperti yang dikatakannya. Tapi setiap kali membayangkan ia akan menggerayangi tubuhku dengan tangan dan tubuhnya membuat perasaanku makin tak menentu. Aku takut. Dan beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka. Ia menarik tubuhnya, berusaha menggeser orang-orang yang berkumpul di depan. Kami berdua berdiri di belakang. Dan saat lampu lift menunjukkan lantai 89, ia menarikku keluar. Jantungku berdebar semakin kencang. Aku semakin takut. Ia menggesek sebuah kartu di sebuah pintu bernomer 415. Saat pintu sudah terbuka, ia menyuruhku masuk. Interior kamar apartemen ini benar-benar indah. Sebagian besar furniturnya didominasi warna putih dan baby blue. “Kamu terpesona?” tiba-tiba ia bertanya. Aku menolehkan kepalaku ke arahnya lalu mengangguk pelan. Ia tersenyum lalu melangkahkan kakinya menuju pantry. “Duduklah di manapun kamu suka.” suruhnya sambil membuka pintu kulkas. Aku mendudukkan diriku di sebuah sofa di dekat pantry. Kedua tanganku berkeringat dingin. Tiba-tiba Hpku berdering. Buru-buru kuambil Hpku yang tersimpan di dalam saku jaketku. “Halo.” kataku. “Hyuk-jae, apa yang kamu lakukan, hah?! Tadi kamu bilang kamu akan memohon padanya supaya ia tak melakukan hal kotor itu padamu, tapi kenapa kamu malah ikut dengannya?” teriak Sung-min hyung. Kulihat cowo itu berdiri di depanku. Kedua tangannya memegang dua kaleng minuman soda. Ia memandang ke arahku sebelum akhirnya mendudukkan dirinya di sebelahku. “Aku akan mencoba berbicara dengannya.” kataku lalu memutuskan hubungan telepon. Kumasukkan Hpku kembali ke saku jaket. “Dari temanmu?” tanya cowo itu sambil membuka pengait salah satu kaleng minuman soda itu. Aku mengangguk pelan. Tiba-tiba, ia menolehkan kepalanya lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Bisa kurasakan hembusan nafasnya di wajahku. “Ka..kamu. .ma. .mau..aa..apa?” tanyaku terputus-putus. Jantungku berdebar semakin kencang. Air mata kembali menggenang di kedua pelupuk mataku. Ia semakin mendekatkan wajahnya. Bibir kami berdua hanya terpisah beberapa mili. Dan pertahananku pun runtuh. Aku menangis di depannya. Air mata mengalir turun, membasahi kedua pipiku. “Aku mohon jangan lakukan hal itu padaku.” kataku, di sela-sela tangisanku. Ia tersenyum. “Kamu tak perlu takut padaku. Aku tak akan melakukan hal sekotor itu padamu. Lagipula aku cowo normal. Kamu bukan tipeku.” katanya lalu menghapus air mata yang mengalir di pipiku dengan ibu jarinya. “Eh?” Aku mengerutkan keningku. Aku makin tak mengerti dengan sikapnya. “Aku bukan seorang gay.” ia menjelaskan. “Aku membayarmu malam ini untuk menemaniku mengobrol. Kamu mau, kan?” tanyanya. Kuhapus sisa air mataku. “Maksudmu apa?” aku balas bertanya. Ia tersenyum lagi. “Aku ingin mengobrol dengan seseorang yang tak mengenalku. Aku ingin mengobrol dengan seseorang yang tak akan menjilatku hanya karena aku adalah putra Lee Hyun-dae. Aku ingin mengobrol dengan santai, tanpa beban.” jawabnya. ‘Lee Hyun-dae? Aku pernah mendengar nama itu. Beliau adalah pemilik Bada Corp, perusahaan kontruksi terbesar di Asia. Jadi cowo ini putra Beliau?’ batinku, tak percaya. “Perkenalkan. Namaku Lee Dong-hae. Siapa namamu?” tanya cowo itu. “Lee Hyuk-jae.” jawabku. “Jadi, kamu membayarku malam ini bukan untuk melakukan one night stand denganmu?” lanjutku. Ia tertawa geli. “Tentu saja tidak. Aku masih menyukai wanita.” ia berkata. “Jadi, Hyuk-jae sshi, maukah kamu menemaniku mengobrol malam ini?” tanyanya lagi. ‘Tuhan, untunglah. Huff, kukira malam ini aku tidak sesial itu. Kurasa dia bukan pribadi yang buruk.’ batinku. Aku menganggukkan kepalaku. “Sekarang ceritanya dimulai darimu. Kenapa kamu bisa bekerja di club gay seperti itu? Orang tuamu tak marah padamu kalau mereka tahu kamu bekerja di sana?” tanyanya. Pertanyaannya kembali membuka kotak penuh kenangan pahit yang terkubur di hatiku. “Aku..”